Aneh! Menumbuk "Sesuatu" Untuk Dijadikan Pupuk Bunga, Tapi Dikerjakan Sambil Menangis Dan Ucapkan Maaf! Ternyata..

Anjing liar dan kucing liar merupaka suatu masalah bagi banyak negara. Salah satunya Jepang.

Jepang harus menyuntik mati  170.000 ekor kucing dan anjing liar setiap tahunnya. Dan berita sedihnya mereka yang dibunuh masih anak kucing dan anak anjing.

Hewan-hewan yang mati ini akan dibakar, lalu bagaimana dengan abu mereka ?

Abu mereka akan dibagi dalam beberapa kantong, disisihkan sebagai sampah komersial, dan sampai di penghujung ajal, mereka bahkan tidak bisa kembali ke tanah.

Pada tahun 2012, Aomori Kenritsu Sanbongi Agriculture High School, Jepang, mulai menerapkan “Flower of Life Project”, siswa sekolah menengah atas yang menyaksikan proses eutanasia itu, kemudian membawa abu anjing tersebut ke sekolah ..

Dalam“Flower of Life Project,” para siswa akan menumbuk tulang-belulang hewan tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam tanah dan dibudidayakan untuk menghasilkan tanaman baru.

Guru mereka mengatakan bahwa makna dari program tersebut adalah agar siswa dapat menghadapi “kehidupan yang sebenarnya” dalam kehidupan mereka, meski itu kejam sekali pun.

Para siswa mengatakan : “Ketika saya melihat collar (ban leher anjing atau kucing dan sejenisnya), tag (kalung nama hewan) atau gigi mereka, air mata saya langsung menetes …” mereka adalah anjing-anjing yang hidup-hidup, tapi mungkin saja mereka dicampakkan mantan pemiliknya, dan akhirnya dunia tidak lagi peduli dan ingat dengan mereka.

Mereka menggunakan batu bata besar untuk menumbuk tulang belulang anjing, dan untuk menumbuknya sampai halus, mereka butuh waktu minimal 1 jam.

Selain suara tumbukan batu bata, semua siswa diam dalam kehingan, mereka hanya memandangi kehidupan yang akan segera sirna di depan mata.

Seringkali ada siswa yang tak tahan meneteska air mata, menumbuk sambil menangis terisak dan bergumam : “Maaf, maaf, aku benar-benar minta maaf….”

Mereka mencampur tumbukan tulang dengan tanah, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah wadah budidaya tanaman dan menaburkan benih ke dalamnya.

Nyawa-nyawa yang telah sirna itu kini berada di dalam pot tanaman, membantu tanaman tumbuh subur dan kokoh, mulai bertunas, kemudian disusul dengan tumbuhnya dedaunan, dan inilah berharganya kehidupan…

Di bawah perawatan yang telaten, akhirnya mereka terus tumbuh besar di dalam tanah, menumbuhkan bunga yang cerah dan indah.

Beberapa bunga diantaranya akan dijual kepada pecinta tanaman, dan para siswi merasa sangat terharu ketika pecinta tanaman ini berfoto bersama dengan anjing keluarga di rumah dan mengirim kembali foto itu untuk mereka : “Saya seperti melihat anjing itu telah memiliki seorang sahabat yang menyertainya…”

Bunga lainnya dipindahkan ke area tanah yang lebih luas dan terus dibudidayakan.

Tanaman yang telah tumbuh didedikasikan untuk penghijauan di prefektur Aomori, mereka ditanam di ruang hijau publik, untuk menemani kita tumbuh bersama.

▼ Anak-anak di sekitar juga ikut bergabung dalam kegiatan pengenalan tentang kehidupan ini, mereka menggali lubang dengan sekop kecil, dan meletakkan tanaman itu ke atas tanah.

▼ Melalui kegiatan ini, orang-orang bisa lebih sadar akan kehidupan yang berharga. Meskipun perubahannya tidak terlalu besar, namun sebanyak 2.000 ekor hewan kucing, anjing yang disuntik mati di Aomori County setiap tahun juga berangsur-angsur menurun.

Para siswa SMA mengatakan, “Tolong jadilah orangtua asuh dari pot mungil ini.”

Bagaimana sebenarnya mendidik tentang “mengenal kehidupan” ini ? di SMA pertanian di Prefektur Aomori ini, mungkin telah menemukan jawaban yang bagus.

Melihat sebuah nyawa yang tak berdosa mati begitu saja dan berusaha membuatnya bisa beristrahat dalam damai dengan sepasang tangan ini adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan siswi-siswi SMA ini.

Mereka hanya berharap anjing-anjing itu bisa menemukan sebuah tempat yang nyaman setelah kematian, tidur abadi di perut bumi, dan jangan ada lagi yang mencampakkan mereka, suatu hari nanti bisa mencapai target  

nara sumber: http://www.erabaru.net

Leave a Comment